Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Dzar berkata : Rasulullah saw bersabda,”Sebaik-baik amal adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”
Al Alamah Abadiy mengatakan bahwa makna “Sebaik-baik amal adalah cinta karena Allah” adalah karena-Nya bukan karena tujuan lain seperti ketertarikan dan berbuat baik. Diantara keharusan dalam mencintai karena Allah adalah mencintai para wali dan orang-orang pilihan-Nya. Dan diantara syarat kecintaan mereka adalah mengikuti jejak-jejak dan menaati mereka.
Sedangkan makna “benci karena Allah” adalah karena perkara yang pantas untuk dibenci seperti kefasikan, kezhaliman, pelaku kemaksiatan. Ibnu Ruslan mengatakan didalam “Syarh as Sunan” bahwa didalamnya terdapat dalil bahwa diwajibkan bagi seseorang memiliki musuh yang dibencinya karena Allah sebagaimana diwajibkan baginya memiliki teman-teman yang dicintai karena Allah.
Lebih jelasnya bahwa jika engkau mecintai seseorang hendaklah karena orang itu menaati Allah dan menjadi kekasih Allah. Ketika orang itu bermaksiat terhadap-Nya maka anda harus membencinya karena ia telah bermaksiat terhadap Allah dan menjadi orang yang dibenci Allah. Barangsiapa yang mencintai karena satu sebab maka sudah seharusnya dia membenci hal-hal yang bertentangan dengan sebab itu. kedua sifat ini sudah menjadi kelaziman yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya dan dia mejadi tuntutan didalam mencintai dan membenci didalam kebiasaannya. (Aunul Ma’bud juz XII hal 248)
Tidak disangsikan bahwa kecintaan seseorang kepada orang lain karena Allah swt adalah buah dari kecintaan dirinya kepada Allah swt. Karena seseorang yang mencintai Allah swt diharuskan pula untuk mencintai orang-orang yang mencintai Allah dan mereka dicintai oleh-Nya.
Ketika seseorang mencintai saudaranya karena Allah maka ia akan tetap mencintainya selama Allah mencintai orang itu dikarenakaan amal-amal shalehnya sebaliknya ketika Allah membencinya dikarenakan maksiat-maksiatnya maka dia pun akan membenci orang itu. Kecintaannya bukanlah karena hal-hal duniawi, seperti : harta, jabatan, kedudukan, nasab atau sejenisnya.
Berbahagialah seseorang yang mampu melakukan hal ini karena ia menjadi bukti benarnya keimanan dan keislamannya. Imam Malik mengatakan bahwa kecintaan karena Allah swt adalah diantara kewajiban keislaman seseorang.
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Anas dari Nabi saw, dia berkata, "Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mana Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk neraka."
Para ulama mengatakan bahwa makna dari “manisnya iman” adalah merasakan kelezatan didalam ketaatan dan mengemban beban-beban didalam mendapatkan ridho Allah dan Rasul-Nya saw dan lebih mendahulukan keredhoan tersebut daripada perhiasan-perhiasan dunia.
Wallahu A’lam
"Doa adalah sebab yang paling kuat untuk mencegah yang dibenci dan mengabulkan sesuatu yang dicari" (Ibnul Qoyyim)
Sabtu, 12 Juni 2010
Jumat, 04 Juni 2010
Ihsan dalam Shalat
Tingkatan Ihsan
Nabi juga ditanya oleh Jibril tentang ihsan. Nabi bersabda, “Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah penjelasan tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu: menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 21). Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.
Takbir sebagai ungkapan yang menyatakan suatu proses naik tercermin pada saat Nabi Saw sedang mendaki sebuah bukit, di sana beliau mendzikirkan kalimat takbir. Berbeda dengan ketika Nabi Saw sedang turun dari sebuah bukit, maka beliau mendzikirkan kalimat tasbih. Dalam 17 rakaat pada lima waktu shalat wajib, diucapkan 94 kali takbir pokok yang membatasi setiap bentuk sikap (state) dalam shalat, berarti dalam sehari semalam seharusnya terjadi minimal 94 kali kenaikan derajat kedekatan dengan Allah Swt.
Istilah shalat melampaui dari sekedar sebuah nama suatu ibadah mahdlah terpenting di dalam agama Islam. Makna spiritual dari kata shalat mencerminkan suatu proses “pengorbitan” setiap ciptaan Allah, secara spesifik terhadap poros dari suatu amr Allah Swt , ini diisyaratkan oleh Al-Qur’an Surat An-Nuur [24] : 41,
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya bertasbih kepada Allah siapa pun yang da di petala langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalatnya dan cara tasbihnya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q. S. An-Nuur [24] : 41)
Tasbih mencerminkan mengalirnya setiap ciptaan dalam suatu proses penyerahan diri (aslama) yang bersifat umum, dan shalat dalam hal ini mencerminkan suatu pengaliran dengan modus atau bentuk tertentu, yang spesifik, tidak sama dari satu ciptaan ke ciptaan yang lainnya. Sebagai contoh, shalatnya seekor burung telah ditentukan ada di dalam bentuk membuka sayapnya ketika ia terbang, dan shalatnya seekor ikan telah ditentukan ada di dalam kondisi saat ia berenang di dalam air.
Secara umum aspek praktis shalat, sebagai suatu ibadah mahdlah yang paling pokok, wajib ditegakkan dalam waktu-waktu yang telah ditentukan. Dalam aspek praktis shalat tampak tercermin keseluruhan dari dinamika kehidupan: pada saat berdiri posisi akal ada di atas qalb, pada saat ruku’ posisi akal sejajar qalb, dan pada saat sujud posisi akal ada di bawah qalb. Dan Nabi Saw mengingatkan bahwa semulia-mulia keadaan shalat adalah pada saat sujudnya, dan beliau memerintahkan agar kita memperbanyak berdoa pada saat bersujud, yaitu pada saat akal diletakkan di belakang qalb (akal yang tunduk kepada qalb yang dirahmati Allah Swt).
Serangkaian shalat praktis tersebut wajib ditegakkan untuk membangun suatu keadaan dzikir kepada Allah Swt (lihat Q. S. Thaaha [20]:14). Dzikir di sini bukan sebatas mengulang-ulang memuji Allah Swt dengan lisan ihwal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tetapi suatu dzikir mencakup suatu keadaan totalitas jiwa (nafs) akibat sentuhan rahmat-Nya, sehingga insan tersebut baqa’ dalam tasbih, doa, kesyukuran dan sebagainya. Dan jika dzikir ini menjadi sebuah maqam, maka menjadi tidak berbatas waktu. Jadi serangkaian shalat praktis yang berbatas waktu wajib ditegakkan untuk membangun dan memelihara suatu keadaan ’shalat’ (dalam tanda kutip) yang tidak berbatas waktu, dzikrullah.
Tujuan sejati dari suatu suluk (tazkiyatu-nafs) adalah untuk menemukan kodrat diri, merupakan qudrah atau kuasa Allah Swt yang ada di dalam nafs, sebagai mandat atau misi hidup yang harus dimanifestasikan. Barangsiapa mengenal nafs-nya maka akan melihat qudrah dirinya sebagai bayangan terbatas dari qudrah-Nya, dan barangsiapa yang mengenal kuasa-Nya maka akan mengenal Rabb-Nya, sebagaimana dikatakan Rasulullah Saw, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” Dan kodrat diri ini tak lain merupakan fitrah Allah Swt yang disematkan kepada diri insan tertentu yang telah menegakkan ad-diin dalam dirinya.
“Shalat itu adalah tiangnya ad-diin.” (Rasulullah Saw)
Ad-Diin di atas mencakup tiga komponen: al-Islam, al-Iman dan al-Ihsan. Ketiga aspek tersebut harus ditegakkan secara utuh di dalam diri insan. Jika satu dari ketiga aspek tersebut belum terbangun maka ia belum termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah mendirikan ad-Diin di dalam dirinya. Jadi rangkaian shalat itu merupakan proses untuk menegakkan ketiga pilar ad-diin tersebut. Dan tentang pilar ketiga ad-diin yakni al-ihsan, Nabi Saw pernah berkata, “Engkau mengabdi kepada-Nya seolah-olah engkau melihat-Nya” adalah pilar yang paling halus dan paling sulit untuk ditegakkan, kecuali oleh mereka yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh, berharap bertemu (liqa’) Allah dengan kerinduan yang mendalam.
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya (liqa’) dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2] : 45-46).
Bagian akhir dari ayat di atas berkaitan dengan ke-ihsan-an sebagai tanda dari hadirnya kekhusyu’an di dalam shalat. Dan jika suatu shalat tidak mencapai pilar ihsan, maka ibadah shalat akan dipandang sebagai sesuatu yang memberatkan, sehingga bangunan ad-diin dalam diri orang tersebut sulit untuk didirikan. Jika seseorang tidak dapat menegakkan ad-diin dalam dirinya maka shalatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan fakhsya’ dan munkar.
Kemudian Nabi Saw bersabda pula, “Siapa yang mengenal Allah maka pasti mencintai-Nya.” Pada maqam ini pilar ketiga dari ad-diin terbangun. Bagaimana agar keihsanan dan kecintaan kepada Allah dapat tumbuh, maka hanya dengan cara mengikuti semua langkah Nabi Saw dengan ikhlas, baik lahiriyahnya maupun batiniyahnya.
_______WallaahuA'lam_______
REferences: Al-Qur'an&Al-HAdist
Nabi juga ditanya oleh Jibril tentang ihsan. Nabi bersabda, “Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah penjelasan tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu: menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 21). Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.
Takbir sebagai ungkapan yang menyatakan suatu proses naik tercermin pada saat Nabi Saw sedang mendaki sebuah bukit, di sana beliau mendzikirkan kalimat takbir. Berbeda dengan ketika Nabi Saw sedang turun dari sebuah bukit, maka beliau mendzikirkan kalimat tasbih. Dalam 17 rakaat pada lima waktu shalat wajib, diucapkan 94 kali takbir pokok yang membatasi setiap bentuk sikap (state) dalam shalat, berarti dalam sehari semalam seharusnya terjadi minimal 94 kali kenaikan derajat kedekatan dengan Allah Swt.
Istilah shalat melampaui dari sekedar sebuah nama suatu ibadah mahdlah terpenting di dalam agama Islam. Makna spiritual dari kata shalat mencerminkan suatu proses “pengorbitan” setiap ciptaan Allah, secara spesifik terhadap poros dari suatu amr Allah Swt , ini diisyaratkan oleh Al-Qur’an Surat An-Nuur [24] : 41,
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya bertasbih kepada Allah siapa pun yang da di petala langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalatnya dan cara tasbihnya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q. S. An-Nuur [24] : 41)
Tasbih mencerminkan mengalirnya setiap ciptaan dalam suatu proses penyerahan diri (aslama) yang bersifat umum, dan shalat dalam hal ini mencerminkan suatu pengaliran dengan modus atau bentuk tertentu, yang spesifik, tidak sama dari satu ciptaan ke ciptaan yang lainnya. Sebagai contoh, shalatnya seekor burung telah ditentukan ada di dalam bentuk membuka sayapnya ketika ia terbang, dan shalatnya seekor ikan telah ditentukan ada di dalam kondisi saat ia berenang di dalam air.
Secara umum aspek praktis shalat, sebagai suatu ibadah mahdlah yang paling pokok, wajib ditegakkan dalam waktu-waktu yang telah ditentukan. Dalam aspek praktis shalat tampak tercermin keseluruhan dari dinamika kehidupan: pada saat berdiri posisi akal ada di atas qalb, pada saat ruku’ posisi akal sejajar qalb, dan pada saat sujud posisi akal ada di bawah qalb. Dan Nabi Saw mengingatkan bahwa semulia-mulia keadaan shalat adalah pada saat sujudnya, dan beliau memerintahkan agar kita memperbanyak berdoa pada saat bersujud, yaitu pada saat akal diletakkan di belakang qalb (akal yang tunduk kepada qalb yang dirahmati Allah Swt).
Serangkaian shalat praktis tersebut wajib ditegakkan untuk membangun suatu keadaan dzikir kepada Allah Swt (lihat Q. S. Thaaha [20]:14). Dzikir di sini bukan sebatas mengulang-ulang memuji Allah Swt dengan lisan ihwal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tetapi suatu dzikir mencakup suatu keadaan totalitas jiwa (nafs) akibat sentuhan rahmat-Nya, sehingga insan tersebut baqa’ dalam tasbih, doa, kesyukuran dan sebagainya. Dan jika dzikir ini menjadi sebuah maqam, maka menjadi tidak berbatas waktu. Jadi serangkaian shalat praktis yang berbatas waktu wajib ditegakkan untuk membangun dan memelihara suatu keadaan ’shalat’ (dalam tanda kutip) yang tidak berbatas waktu, dzikrullah.
Tujuan sejati dari suatu suluk (tazkiyatu-nafs) adalah untuk menemukan kodrat diri, merupakan qudrah atau kuasa Allah Swt yang ada di dalam nafs, sebagai mandat atau misi hidup yang harus dimanifestasikan. Barangsiapa mengenal nafs-nya maka akan melihat qudrah dirinya sebagai bayangan terbatas dari qudrah-Nya, dan barangsiapa yang mengenal kuasa-Nya maka akan mengenal Rabb-Nya, sebagaimana dikatakan Rasulullah Saw, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” Dan kodrat diri ini tak lain merupakan fitrah Allah Swt yang disematkan kepada diri insan tertentu yang telah menegakkan ad-diin dalam dirinya.
“Shalat itu adalah tiangnya ad-diin.” (Rasulullah Saw)
Ad-Diin di atas mencakup tiga komponen: al-Islam, al-Iman dan al-Ihsan. Ketiga aspek tersebut harus ditegakkan secara utuh di dalam diri insan. Jika satu dari ketiga aspek tersebut belum terbangun maka ia belum termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah mendirikan ad-Diin di dalam dirinya. Jadi rangkaian shalat itu merupakan proses untuk menegakkan ketiga pilar ad-diin tersebut. Dan tentang pilar ketiga ad-diin yakni al-ihsan, Nabi Saw pernah berkata, “Engkau mengabdi kepada-Nya seolah-olah engkau melihat-Nya” adalah pilar yang paling halus dan paling sulit untuk ditegakkan, kecuali oleh mereka yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh, berharap bertemu (liqa’) Allah dengan kerinduan yang mendalam.
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya (liqa’) dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2] : 45-46).
Bagian akhir dari ayat di atas berkaitan dengan ke-ihsan-an sebagai tanda dari hadirnya kekhusyu’an di dalam shalat. Dan jika suatu shalat tidak mencapai pilar ihsan, maka ibadah shalat akan dipandang sebagai sesuatu yang memberatkan, sehingga bangunan ad-diin dalam diri orang tersebut sulit untuk didirikan. Jika seseorang tidak dapat menegakkan ad-diin dalam dirinya maka shalatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan fakhsya’ dan munkar.
Kemudian Nabi Saw bersabda pula, “Siapa yang mengenal Allah maka pasti mencintai-Nya.” Pada maqam ini pilar ketiga dari ad-diin terbangun. Bagaimana agar keihsanan dan kecintaan kepada Allah dapat tumbuh, maka hanya dengan cara mengikuti semua langkah Nabi Saw dengan ikhlas, baik lahiriyahnya maupun batiniyahnya.
_______WallaahuA'lam_______
REferences: Al-Qur'an&Al-HAdist
Rabu, 21 April 2010
Kembalikan Citra Kartini dari kegelapan menuju cahaya Islam
Perjalanan Kartini
Kartini adalah seorang wanita yang cerdas. Terbukti hanya dengan bekal pendidikan Sekolah Rendah (setingkat SD), ia telah mampu mengajukan kritik dan saran pada Pemerintah Hindia Belanda, yang salah satunya berbunyi "Berilah pendidikan bagi bangsa jawa". Hal ini menunjukkan bahwa Kartini mempunyai keperdulian yang sangat dalam terhadap nasib bangsanya, yang oleh pemerintah Hindia Belanda dibiarkan berada dalam kebodohan dan kebutaan.
Pada mulanya Kartini tidak bercita-cita untuk menjadi muslimah. Sebelum Kartini lebih jauh mengenal Islam, ia telah mengenal sebuah prinsip melalui semboyan Revolusi Perancis, yaitu Liberte, Egalite, Freternite (Kemerdekaan, Persamaan, Persaudaraan). Beranjak dari sinilah Kartini mulai berusaha mendobrak adat yang berlaku pada masa itu, dimana orang selalu
dibeda-bedakan berdasarkan warna darahnya, apakah dia ningrat (berdarah biru) atau bukan. Menurut Kartini, yang membedakan derajat seseorang hanyalah pikirannya (fikroh) dan budi pekertinya (akhlak).
Kartini Berjuang Sendiri
Dalam menjalani perjuangannya, Kartini berjuang sendiri, tidak bergabung dengan barisan manapun yang dapat memperkokoh kedudukannya.
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. 61:4)
Sudah merupakan sunatullah, bahwa orang yang berjuang sendirian akan lebih rentan terhadap berbagai serangan yang datang dari musuh-musuhnya. "Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir." (Ali bin Abi Thalib).
Serigala itu hanya menerkam domba yang sendirian. Demikianlah yang terjadi pada Kartini. Oleh sebab itu dengan leluasa musuh-musuhnya menjadikan Kartini sebagai permainan serta memper-alatnya. Tidak jarang Kartini menjadi bulan-bulanan musuh-musuhnya yang berkedok sebagai teman surat-menyurat (Stella yang Yahudi), guru privat (Annie Glasser, mata-mata Abendanon), dan lainnya. Bahkan sempat pula Kartini diperalat oleh Ir.H.Van Kol, yang
berusaha memperjuangkan ke-berangkatan Kartini ke negeri Belanda, untuk dijadikannnya sebagai saksi hidup atas kebobrokan pemerintah Hindia Belanda di tanah jajahan. Hal ini bukan berarti Van Kol perduli dan membela rakyat di tanah jajahan, tetapi ia berambisi untuk meme-nangkan partainya (sosialis) di parlemen.
Hidayah Allah pun datang
Seperti telah disebutkan bahwa menjadi seorang muslimah bukanlah awal dari cita-cita Kartini. Bahkan ada suatu masa dimana Ny.Van Kol berusaha mengkristenkan Kartini. Meskipun ia gagal untuk mengkristenkan Kartini, namun ia berhasil mendangkalkan aqidah Kartini. Sehingga dalam beberapa suratnya, Kartini sering menyebutkan Allah dalam konsep trinitas.
"Namun demikian, Allah pula lah yang mempunyai kehendak atas hamba-Nya. Allah menurunkan hidayah-Nya pada Kartini melalui sebuah pengajian dan pertemuan singkatnya dengan KH. Sholeh Darat. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)..." (QS. 2:257)
Inilah titik awal dari pembalikan Kartini (inqilab) dari kegelapan jahiliyah menuju pada cahaya Islam (Minazh Zhulumaati ilan Nuur). Melalui Al-Quran yang sebagian diterjemahkan oleh KH.Soleh Darat, Kartini mulai mempelajari Islam dalam arti yang sebenarnya. Mulai saat itu Kartini bercita-cita untuk menjadi seorang muslimah sejati.
Kalimat Minazh Zhulumaati ilan Nuur sering Kartini ulang-ulangi di dalam suratnya, yang dalam bahasa Belanda ditulis sebagai Door Duisternis Tot Licht. Sayang-nya, kalimat tersebut diterjemahkan oleh Armijn Pane (nasrani) sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang", sehingga maknanya yang begitu dalam tidak lagi terlihat.
Rancu
Meskipun Kartini telah berusaha untuk mempelajari Islam dan berjuang di jalan Islam, tapi ia belum juga mempunyai gambaran yang jelas tentang Islam, sehingga pemahamannya tentang Islam bersifat parsial, tidak menyeluruh. Hal inilah yang menjadikan Kartini tidak tahu akan panjangnya jalan yang harus ditempuh dan bagaimana cara berjalan diatasnya. Pemikirannya sering kali masih rancu dengan konsep Barat dalam operasional dan perinciannya, walaupun
secara global adalah konsep Islam. Hal ini sangat mungkin sekali terjadi, karena teman-teman dekat Kartini adalah Yahudi dan Nasrani.
Juga dalam beberapa suratnya, secara tidak sadar Kartini menceritakan tentang praktek keburukan umat Islam (bukan Islamnya yang buruk) ke para sahabatnya yang bukan muslim. Hal inilah yang kelak kemudian hari akan menjadi bumerang dan fitnah bagi umat Islam.
Melihat perjalanan kehidupan Kartini, banyak pelajaran yang dapat kita petik. Janganlah kini kita menyalahkan Kartini kalau ia belum bisa lepas dari kungkungan adat dan pengaruh pendidikan baratnya. Kartini telah berjuang untuk mendobraknya, dan ia pun telah berusaha menjadikan dirinya seorang muslimah sejati. Mudah-mudahan Allah merahmati Kartini atas usaha dan perjuangannya.
"Hidup ini patut kita hayati ! Bagaimana kita mau menang kalau kita tidak berjuang lebih dulu ?" "Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya"
Surat-surat Kartini
Diringkas dari sumber
"Tragedi Kartini" karya Asma Karimah
*http://www.hudzaifah.org/Article47.phtml
Kartini adalah seorang wanita yang cerdas. Terbukti hanya dengan bekal pendidikan Sekolah Rendah (setingkat SD), ia telah mampu mengajukan kritik dan saran pada Pemerintah Hindia Belanda, yang salah satunya berbunyi "Berilah pendidikan bagi bangsa jawa". Hal ini menunjukkan bahwa Kartini mempunyai keperdulian yang sangat dalam terhadap nasib bangsanya, yang oleh pemerintah Hindia Belanda dibiarkan berada dalam kebodohan dan kebutaan.
Pada mulanya Kartini tidak bercita-cita untuk menjadi muslimah. Sebelum Kartini lebih jauh mengenal Islam, ia telah mengenal sebuah prinsip melalui semboyan Revolusi Perancis, yaitu Liberte, Egalite, Freternite (Kemerdekaan, Persamaan, Persaudaraan). Beranjak dari sinilah Kartini mulai berusaha mendobrak adat yang berlaku pada masa itu, dimana orang selalu
dibeda-bedakan berdasarkan warna darahnya, apakah dia ningrat (berdarah biru) atau bukan. Menurut Kartini, yang membedakan derajat seseorang hanyalah pikirannya (fikroh) dan budi pekertinya (akhlak).
Kartini Berjuang Sendiri
Dalam menjalani perjuangannya, Kartini berjuang sendiri, tidak bergabung dengan barisan manapun yang dapat memperkokoh kedudukannya.
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. 61:4)
Sudah merupakan sunatullah, bahwa orang yang berjuang sendirian akan lebih rentan terhadap berbagai serangan yang datang dari musuh-musuhnya. "Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir." (Ali bin Abi Thalib).
Serigala itu hanya menerkam domba yang sendirian. Demikianlah yang terjadi pada Kartini. Oleh sebab itu dengan leluasa musuh-musuhnya menjadikan Kartini sebagai permainan serta memper-alatnya. Tidak jarang Kartini menjadi bulan-bulanan musuh-musuhnya yang berkedok sebagai teman surat-menyurat (Stella yang Yahudi), guru privat (Annie Glasser, mata-mata Abendanon), dan lainnya. Bahkan sempat pula Kartini diperalat oleh Ir.H.Van Kol, yang
berusaha memperjuangkan ke-berangkatan Kartini ke negeri Belanda, untuk dijadikannnya sebagai saksi hidup atas kebobrokan pemerintah Hindia Belanda di tanah jajahan. Hal ini bukan berarti Van Kol perduli dan membela rakyat di tanah jajahan, tetapi ia berambisi untuk meme-nangkan partainya (sosialis) di parlemen.
Hidayah Allah pun datang
Seperti telah disebutkan bahwa menjadi seorang muslimah bukanlah awal dari cita-cita Kartini. Bahkan ada suatu masa dimana Ny.Van Kol berusaha mengkristenkan Kartini. Meskipun ia gagal untuk mengkristenkan Kartini, namun ia berhasil mendangkalkan aqidah Kartini. Sehingga dalam beberapa suratnya, Kartini sering menyebutkan Allah dalam konsep trinitas.
"Namun demikian, Allah pula lah yang mempunyai kehendak atas hamba-Nya. Allah menurunkan hidayah-Nya pada Kartini melalui sebuah pengajian dan pertemuan singkatnya dengan KH. Sholeh Darat. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)..." (QS. 2:257)
Inilah titik awal dari pembalikan Kartini (inqilab) dari kegelapan jahiliyah menuju pada cahaya Islam (Minazh Zhulumaati ilan Nuur). Melalui Al-Quran yang sebagian diterjemahkan oleh KH.Soleh Darat, Kartini mulai mempelajari Islam dalam arti yang sebenarnya. Mulai saat itu Kartini bercita-cita untuk menjadi seorang muslimah sejati.
Kalimat Minazh Zhulumaati ilan Nuur sering Kartini ulang-ulangi di dalam suratnya, yang dalam bahasa Belanda ditulis sebagai Door Duisternis Tot Licht. Sayang-nya, kalimat tersebut diterjemahkan oleh Armijn Pane (nasrani) sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang", sehingga maknanya yang begitu dalam tidak lagi terlihat.
Rancu
Meskipun Kartini telah berusaha untuk mempelajari Islam dan berjuang di jalan Islam, tapi ia belum juga mempunyai gambaran yang jelas tentang Islam, sehingga pemahamannya tentang Islam bersifat parsial, tidak menyeluruh. Hal inilah yang menjadikan Kartini tidak tahu akan panjangnya jalan yang harus ditempuh dan bagaimana cara berjalan diatasnya. Pemikirannya sering kali masih rancu dengan konsep Barat dalam operasional dan perinciannya, walaupun
secara global adalah konsep Islam. Hal ini sangat mungkin sekali terjadi, karena teman-teman dekat Kartini adalah Yahudi dan Nasrani.
Juga dalam beberapa suratnya, secara tidak sadar Kartini menceritakan tentang praktek keburukan umat Islam (bukan Islamnya yang buruk) ke para sahabatnya yang bukan muslim. Hal inilah yang kelak kemudian hari akan menjadi bumerang dan fitnah bagi umat Islam.
Melihat perjalanan kehidupan Kartini, banyak pelajaran yang dapat kita petik. Janganlah kini kita menyalahkan Kartini kalau ia belum bisa lepas dari kungkungan adat dan pengaruh pendidikan baratnya. Kartini telah berjuang untuk mendobraknya, dan ia pun telah berusaha menjadikan dirinya seorang muslimah sejati. Mudah-mudahan Allah merahmati Kartini atas usaha dan perjuangannya.
"Hidup ini patut kita hayati ! Bagaimana kita mau menang kalau kita tidak berjuang lebih dulu ?" "Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya"
Surat-surat Kartini
Diringkas dari sumber
"Tragedi Kartini" karya Asma Karimah
*http://www.hudzaifah.org/Article47.phtml
Rabu, 07 April 2010
Life is beautiful...
What is life ?
Al-Quran selalu menyeru untuk mengamati secara objektif alam dengan fenomenanya yang bermacam-macam, manusia dengan seluk beluk keajaibannya, bumi dan langit dengan segala kemegahannya, dan binatang dengan segala rahasianya. Sebagaimana tertuang dalam QS.Al-Anbiya yang artinya: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan air Kami jadika segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”
Air adalah substansi yang kita butuhkan setiap saat dalam hidup kita. Misalnya, sebagian besar dari sel-sel tubuh, dan darah yang menjangkau setiap bagian kecil dari tubuh kita tersusun dari air. Jika tidak demikian, maka fluiditas darah akan berkurang dan darah akan sangat sulit mengalir di dalam pembuluh vena. Fluiditas air tidak hanya penting bagi tubuh manusia, tetapi juga untuk tetumbuhan. Air mampu menjangkau bagian yang paling ujung dari daun melalui pembuluh-pembuluh yang halus seperti benang.
Kemudian kita melihat keindahan dan kehalusan bahasa Al-Quran dari segi yang lain, yaitu pemilihan suatu kata kerja (fi’il). Tentang diluaskannya bumi, Allah berfirman:
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.” (QS.An-Nadzi’at:30) . Menurut kamus bahasa arab fi’il yang dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang membentuk dua keadaan, rata dan bundar. Secara lahiriah, bumi itu sebenarnya bundar. Maka kata “Daha” mencakup keduanya, rata dan bundar.
Al-Quran juga berbicara tentang angin (riyaah): “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan tetumbuhan.” (QS.Al-Hijr:22)
Dalam ayat ini angin meniup awan yang berlainan rupa. Awan ini juga membawa benih, yaitu berbentuk air yang kemudian turun menjadi hujan menumbuhkan, menghidupkan, dan menyegarkan tetumbuhan dan lain-lain makhluk.
Keteraturan dan keterkaitan pada setiap makhluk di dunia ini adalah pertanda adanya kekuatan yang kreatif dan besar yang mengatur alam ini, dan mengarahkannya menuju suatu kesempurnaan. Setiap temuan sains selalu menyingkap rahasia-rahasia yang terpendam dan membuka jalan yang ada dalam sistem alam ini serta membuat kita semakin kagum. Rahasia itu mencakup sistem partikel yang terkecil, yaitu atom dan unsur-unsur pokoknya, sistem alam yang besar seperti galaksi, awan, dan yang paling menakjubkan sistem makhluk hidup, mulai dari struktur sel atau bahkan lebih kecil lagi seperti kromosom / gen sampai stuktur makhluk hidup yang sudah sempurna, terutama manusia yang memiliki beberapa sistem yang aktif dan terkoordinasi secara menakjubkan untuk mempertahankan hidup dan menyempurnakan dirinya. Perhatian akan sistem ini, pada diri ahli sains yang telah berperan dalam memahami dan menyingkapkan rahasia-rahasia sistem ini menimbulkan kesan objektif, dan terus akan begitu, bahwa suatu “Kepandaian Yang MahaKuasa” telah menciptakan sistem ini dan bertanggung jawab atas kelanjutannya.
Who am I ?
Apa dan jenis makhluk hidup apa manusia itu ? Menurut ilmu pengetahuan alam jawabannya adalah: Manusia yaitu makhluk hidup yang terdiri dari sekumpulan sel, mempunyai sifat-sifat membutuhkan makan, tumbuh, berkembang di dalam rahim dan dilahirkan oleh ibu. Sebagaimana tertuang dalam QS.Al-Mu’minuun: 12-14 yang artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.”
Manusia yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, hatinya diliputi keyakinan akan adanya sutu DzatYang Maha Gaib. Dengan keyakinannya itulah ia akan menghadapi segala ujian dan cobaan hidup dengan penuh sabar dan tenang. Ia akan menempuh jalan hidup yang dilaluinya dengan hati-hati. Dirinya sadar bahwa dalam hidupnya tidak sendirian, namun ada yang selalu menyertainya, yaitu Allah SWT. Manusia tahu dibalik semua ujian dan cobaan hidup ini akan ada hikmah yang terpendam.
“Maka nikmat Rabb-mu manakah yang kamu dustakan?” (QS.ArRahman:30). Ini sebuah pernyataan bahwa Nikmat Allah begitu banyaknya, sehingga sebagai manusia tidak dapat menghitungnya. Dan apa yang seharusnya kita perbuat, apakah memanfatkannya dengan baik atau tidak.
Why do I Exist?
Allah SWT menciptakan alam dengan semua isinya ini tidaklah sia-sia. Penciptaan alam ini ada tujuan yang pasti, agar manusia mengetahui kadar kebaikan dan kejahatan yang diperbuatnya, sehingga manusia yang beriman akan lebih mengenal Penciptanya, dan mau beramal untuknya sebagai bekal di hari akhirat nanti, dimana ia akan bertemu dengan Tuhannya.
Sebagai Firman Allah SWT, yang artinya:
“Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau.” (QS.Ali Imran:191)
“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja, dan bahwa kamu tidak dikembalikan kepada kami?” (QS.Al-Mu’Minuun:115)
Hamba Allah yang mukmin akan mengenal Allah sebelum mereka bertemu denganNya. Mereka mengenalNya sejak dari alam wujud ini dengan segala kehidupannya yang membuktikan adanya Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Agung yang patut diibadati. Allah berfirman yang artinya: “Dan tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaku” (QS.Az-Zariyat:56).
Kata beribadah kepadaKu dalam ayat ini sangat luas artinya. Termasuk dalam pengertian ini adalah mengenal Allah, karena tidak ada peribadatan tanpa ada pengenalan terlebih dahulu.
Sesungguhnya Allah menjadikan manusia untuk menerima pemberianNya, maka sudah barang tentu kita yang menerima harus mengenal dan bersyukur kepada Yang Memberi.Kalau hal ini dapat dilakukan dengan penuh kesadaran, kita akan rela menerima apa yang telah diberikan Allah kepada kita, dan tidak akan mengada-adakan sesuatu yang luar diri kemampuan sendiri. Inilah yang disebut manusia yang mengenal dirinya sendiri dan mengenal Sang Maha Pencipta, yang telah menciptakan alam semesta ini dengan penuh hikmah-Nya. Sebagaimana firman Allah, yang Artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia Menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya.”(QS.Al-Mulk:2)
What am I going to do?
Setiap manusia merupakan unsur yang menentukan. Unsur ini terus-menerus menentukan kehidupan, gerakan, aksi dan reaksi terhadap berbagai fenomena yang penting dan tidak penting,dan mengubahnya kedalam bentuk tersendiri. Gerakan, aksi dan reaksi itu dipengaruhi oleh sifat dan pribadinya. Faktor yang menentukan pribadi dan sifat setiap manusia dalam arti prioritas yang dipilihnya ketika menghadapi jalan silang, merupakan faktor yang menentukan dalam kehidupan dunia mental dan amal(praktis).
Ada hal yang menarik. Menurut pandangan wahyu, perbuatan-perbuatan manusia yang paling alamiahpun timbul semata-mata karena naluri dan kehendak hati manusia. Setiap perilaku yang menuju kesempurnaan dunia disebut amal sholeh. Keadaannya bukanlah bahwa manusia dapat berbuat suatu keduniawian untuk kehidupan akhirat menurut jalan Allah, melainkan masing-masing perbuatan itu dan pendekatannya terhadap dunia selalu ditujukan kepada usaha yang konstruktif, yang akibatkan akan dirasakannya dalam kehidupan sesudah mati.
Contohnya adalah perbuatan ibadah shalat lima waktu. Karakter sebenarnya dari shalat itu adalah memusatkan perhatian jiwa dan perasaan hati kepada realitas eksistensi yang sejati, yaitu Allah. Perbuatan ibadah ini merupakan pembangunan kembali diri atas perhatian manusia kepada dirinya sendiri dengan mawas diri, menghitung-hitung amal perbuatannya. Maka menurut wahyu, segala amal perbuatan memiliki sifat konstruktif merupakan gerakan manusia menuju suatu kesempurnaan.
Menurut wahyu, sistem kehidupan didunia ini akan mengalami perubahan ke dalam sistem lain. Fase perubahan di dalam Al-Quran disebut: “Hari Berbangkit” (Qiyamat). Maka dalam fase ini manusia akan menjalani kehidupan yang hari esoknya semata-mata ditentukan oleh pikiran dan usahanya.
______Wallaahua'alam______
References:
Al-Quranul Karim dan Terjemahannya.
Beheshti,S.M.H. 1989. Pandangan Hidup muslim. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya
Mahmoud,musthafa. 1992. Al-Qur’an dan Alam Kehidupan. Solo:CV.Pustaka Mantiq
Al-Quran selalu menyeru untuk mengamati secara objektif alam dengan fenomenanya yang bermacam-macam, manusia dengan seluk beluk keajaibannya, bumi dan langit dengan segala kemegahannya, dan binatang dengan segala rahasianya. Sebagaimana tertuang dalam QS.Al-Anbiya yang artinya: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan air Kami jadika segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”
Air adalah substansi yang kita butuhkan setiap saat dalam hidup kita. Misalnya, sebagian besar dari sel-sel tubuh, dan darah yang menjangkau setiap bagian kecil dari tubuh kita tersusun dari air. Jika tidak demikian, maka fluiditas darah akan berkurang dan darah akan sangat sulit mengalir di dalam pembuluh vena. Fluiditas air tidak hanya penting bagi tubuh manusia, tetapi juga untuk tetumbuhan. Air mampu menjangkau bagian yang paling ujung dari daun melalui pembuluh-pembuluh yang halus seperti benang.
Kemudian kita melihat keindahan dan kehalusan bahasa Al-Quran dari segi yang lain, yaitu pemilihan suatu kata kerja (fi’il). Tentang diluaskannya bumi, Allah berfirman:
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.” (QS.An-Nadzi’at:30) . Menurut kamus bahasa arab fi’il yang dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang membentuk dua keadaan, rata dan bundar. Secara lahiriah, bumi itu sebenarnya bundar. Maka kata “Daha” mencakup keduanya, rata dan bundar.
Al-Quran juga berbicara tentang angin (riyaah): “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan tetumbuhan.” (QS.Al-Hijr:22)
Dalam ayat ini angin meniup awan yang berlainan rupa. Awan ini juga membawa benih, yaitu berbentuk air yang kemudian turun menjadi hujan menumbuhkan, menghidupkan, dan menyegarkan tetumbuhan dan lain-lain makhluk.
Keteraturan dan keterkaitan pada setiap makhluk di dunia ini adalah pertanda adanya kekuatan yang kreatif dan besar yang mengatur alam ini, dan mengarahkannya menuju suatu kesempurnaan. Setiap temuan sains selalu menyingkap rahasia-rahasia yang terpendam dan membuka jalan yang ada dalam sistem alam ini serta membuat kita semakin kagum. Rahasia itu mencakup sistem partikel yang terkecil, yaitu atom dan unsur-unsur pokoknya, sistem alam yang besar seperti galaksi, awan, dan yang paling menakjubkan sistem makhluk hidup, mulai dari struktur sel atau bahkan lebih kecil lagi seperti kromosom / gen sampai stuktur makhluk hidup yang sudah sempurna, terutama manusia yang memiliki beberapa sistem yang aktif dan terkoordinasi secara menakjubkan untuk mempertahankan hidup dan menyempurnakan dirinya. Perhatian akan sistem ini, pada diri ahli sains yang telah berperan dalam memahami dan menyingkapkan rahasia-rahasia sistem ini menimbulkan kesan objektif, dan terus akan begitu, bahwa suatu “Kepandaian Yang MahaKuasa” telah menciptakan sistem ini dan bertanggung jawab atas kelanjutannya.
Who am I ?
Apa dan jenis makhluk hidup apa manusia itu ? Menurut ilmu pengetahuan alam jawabannya adalah: Manusia yaitu makhluk hidup yang terdiri dari sekumpulan sel, mempunyai sifat-sifat membutuhkan makan, tumbuh, berkembang di dalam rahim dan dilahirkan oleh ibu. Sebagaimana tertuang dalam QS.Al-Mu’minuun: 12-14 yang artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.”
Manusia yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, hatinya diliputi keyakinan akan adanya sutu DzatYang Maha Gaib. Dengan keyakinannya itulah ia akan menghadapi segala ujian dan cobaan hidup dengan penuh sabar dan tenang. Ia akan menempuh jalan hidup yang dilaluinya dengan hati-hati. Dirinya sadar bahwa dalam hidupnya tidak sendirian, namun ada yang selalu menyertainya, yaitu Allah SWT. Manusia tahu dibalik semua ujian dan cobaan hidup ini akan ada hikmah yang terpendam.
“Maka nikmat Rabb-mu manakah yang kamu dustakan?” (QS.ArRahman:30). Ini sebuah pernyataan bahwa Nikmat Allah begitu banyaknya, sehingga sebagai manusia tidak dapat menghitungnya. Dan apa yang seharusnya kita perbuat, apakah memanfatkannya dengan baik atau tidak.
Why do I Exist?
Allah SWT menciptakan alam dengan semua isinya ini tidaklah sia-sia. Penciptaan alam ini ada tujuan yang pasti, agar manusia mengetahui kadar kebaikan dan kejahatan yang diperbuatnya, sehingga manusia yang beriman akan lebih mengenal Penciptanya, dan mau beramal untuknya sebagai bekal di hari akhirat nanti, dimana ia akan bertemu dengan Tuhannya.
Sebagai Firman Allah SWT, yang artinya:
“Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau.” (QS.Ali Imran:191)
“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja, dan bahwa kamu tidak dikembalikan kepada kami?” (QS.Al-Mu’Minuun:115)
Hamba Allah yang mukmin akan mengenal Allah sebelum mereka bertemu denganNya. Mereka mengenalNya sejak dari alam wujud ini dengan segala kehidupannya yang membuktikan adanya Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Agung yang patut diibadati. Allah berfirman yang artinya: “Dan tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaku” (QS.Az-Zariyat:56).
Kata beribadah kepadaKu dalam ayat ini sangat luas artinya. Termasuk dalam pengertian ini adalah mengenal Allah, karena tidak ada peribadatan tanpa ada pengenalan terlebih dahulu.
Sesungguhnya Allah menjadikan manusia untuk menerima pemberianNya, maka sudah barang tentu kita yang menerima harus mengenal dan bersyukur kepada Yang Memberi.Kalau hal ini dapat dilakukan dengan penuh kesadaran, kita akan rela menerima apa yang telah diberikan Allah kepada kita, dan tidak akan mengada-adakan sesuatu yang luar diri kemampuan sendiri. Inilah yang disebut manusia yang mengenal dirinya sendiri dan mengenal Sang Maha Pencipta, yang telah menciptakan alam semesta ini dengan penuh hikmah-Nya. Sebagaimana firman Allah, yang Artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia Menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya.”(QS.Al-Mulk:2)
What am I going to do?
Setiap manusia merupakan unsur yang menentukan. Unsur ini terus-menerus menentukan kehidupan, gerakan, aksi dan reaksi terhadap berbagai fenomena yang penting dan tidak penting,dan mengubahnya kedalam bentuk tersendiri. Gerakan, aksi dan reaksi itu dipengaruhi oleh sifat dan pribadinya. Faktor yang menentukan pribadi dan sifat setiap manusia dalam arti prioritas yang dipilihnya ketika menghadapi jalan silang, merupakan faktor yang menentukan dalam kehidupan dunia mental dan amal(praktis).
Ada hal yang menarik. Menurut pandangan wahyu, perbuatan-perbuatan manusia yang paling alamiahpun timbul semata-mata karena naluri dan kehendak hati manusia. Setiap perilaku yang menuju kesempurnaan dunia disebut amal sholeh. Keadaannya bukanlah bahwa manusia dapat berbuat suatu keduniawian untuk kehidupan akhirat menurut jalan Allah, melainkan masing-masing perbuatan itu dan pendekatannya terhadap dunia selalu ditujukan kepada usaha yang konstruktif, yang akibatkan akan dirasakannya dalam kehidupan sesudah mati.
Contohnya adalah perbuatan ibadah shalat lima waktu. Karakter sebenarnya dari shalat itu adalah memusatkan perhatian jiwa dan perasaan hati kepada realitas eksistensi yang sejati, yaitu Allah. Perbuatan ibadah ini merupakan pembangunan kembali diri atas perhatian manusia kepada dirinya sendiri dengan mawas diri, menghitung-hitung amal perbuatannya. Maka menurut wahyu, segala amal perbuatan memiliki sifat konstruktif merupakan gerakan manusia menuju suatu kesempurnaan.
Menurut wahyu, sistem kehidupan didunia ini akan mengalami perubahan ke dalam sistem lain. Fase perubahan di dalam Al-Quran disebut: “Hari Berbangkit” (Qiyamat). Maka dalam fase ini manusia akan menjalani kehidupan yang hari esoknya semata-mata ditentukan oleh pikiran dan usahanya.
______Wallaahua'alam______
References:
Al-Quranul Karim dan Terjemahannya.
Beheshti,S.M.H. 1989. Pandangan Hidup muslim. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya
Mahmoud,musthafa. 1992. Al-Qur’an dan Alam Kehidupan. Solo:CV.Pustaka Mantiq
Kamis, 01 April 2010
Bagaimana Qt menjadi Ummat terbaik (Khairu Ummah)?
Tertuang dalam Qs. Ali Imran[3]:110 Allah berfirman, yang artinya: “Kamu (ummat Islam) adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegahdari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik”
Maksud Ummat terbaik menurut Allah dalam QS.3: 110 diatas dapat dijabarkan sbb:
1. Ukhrijat linnaas (yang dilahirkan u/ manusia)
Esensinya yaitu Kita sebagai ummat Islam jangan hanya tinggal diam. Bergaullah pada orang lain (Hablumminannas). Sehingga terjadi ikatan ukhuwah (persaudaraan). Sebagaimana Rasul bersabda: “Manusia yang baik itu adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain” (Al-Hadist). Disebutkan juga dalam QS. An-Nazi’at:27: “Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?”. Ini menandakan bahwa manusia “special” dibanding makhluk lain. Sehingga manusia dituntut u/ balance antara Hablumminallah dan Hablumminannas.
2. ‘Amar Ma’ruf (Menyuruh pada kebaikan) berdasarkan ilmu.
Allah memerintahkan kita agar berdakwah di jalan-Nya: “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaranyang baik. Dan bantah lah mereka dengan cara yg lebih baik”(QS. An-Nahl:125)
Dalam hadist diriwayatkan o/ Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan (hidayah), maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang2 yg mengikutinya, tanpa mengurangi pahala yang diterima o/ orang2 tsb” (HR. Muslim, 2674)
3. Nahi Munkar (Mencegah pada kemungkaran)
Betapa banyak ummat Islam yang ingin masuk surga sendirian. Ini menandakan kurang pemahaman dalam menjalankan syari’at.
Dalam hadist (dg beberapa perubahan redaksi) disebutkan: “ Ubahlah keburukan dengan 3 hal, yaitu dengan tangamu, lisanmu, dan dengan doa, sesungguhnya doa adalah selemah2nya iman.”
4. Jangan terpecah belah antar Ummat Islam
Jangan karena perbedaan Khilafiyah, silaturrahim terputus. Klo seperti ini terus, kapan Ummat Islam dewasa akan hal beragama?? Sebuah PR kita semua.
Pada dasarnya, tabiat Ummat Islam itu baik. Dikatakan baik disini yaitu Tahu apa tujuan Allah menciptakan manusia dan manusia mengikuti apa yang sudah ditetapkan o/ Allah.
_______Wallaahua’lam Bisshowab______
*review dr sebuah tausyah o/ Ust. Faishal Fath
Langganan:
Postingan (Atom)